1. Pengertian Pengelolaan Kelas
Berbagai definisi tentang pengelolaan kelas
yang dapat diterima oleh para ahli pendidikan, yaitu :
a. Perangkat kegiatan guru untuk mengembangkan
tingkah laku siswa yang diinginkan dan menguragkan tingkah laku yang tidak
diinginkan.
b. Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan
hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio emosional kelas yang positif.
c. Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan
dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Dari ketiga definisi diatas, masing-masing
mempunyai asumsi yang berbeda-beda. Para ahli menggabungkan ketiga dimensi itu
menjadi definisi yang bersifat pluralistik, yaitu bahwa pengelolaan kelas sebagai
seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan,
menghubungkan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta
mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
2. Masalah-Masalah Pengelolaan Kelas
Dalam menangani tugasnya, guru-guru sering
menghadapi permasalahan dengan kegiatan-kegiatan didalam kelasnya. Permasalahan
ini meliputi dua jenis juga, yaitu yang menyangkut pengajaran dan yang
menyangkut pengelolaan kelas. Guru-guru harus mampu membedakan kedua
permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi
guru-guru menangani masalah yangbersifat pengajaran dengan pemecahan yang
bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat
penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi
lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak
senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh
kawan-kawannya. Pemecahan seperti ini tentu saja tidak tepat. “Membuat
pelajaran lebih menarik” adalah permasalahan pengajaran, sedangkan “diterima
atau tidak diterima oleh kawan” adalah permasalahan pengelolaan. Masalah
pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan
masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan.
Untuk dapat menangani masalah-masalah
pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
- Mengenali
secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat
perorangan maupun kelompok;
- Memahami
pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
- Memilih
dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang
dimaksud.
Dalam salah satu tulisannya Raka Joni mengupas
tentang pengelolaan kelas. Menurutnya pengelolaan kelas merupakan salah satu
keterampilan penting yang harus dikuasai guru. Pengelolaan kelas berbeda dengan
pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada
kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu
pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya
untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya
proses belajar (pembinaanrapport,
penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas,
pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat
waktupenetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan
orang (peserta didik) dan fasilitas.
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu
yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari
bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali
menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian,
pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru
ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi
tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1. Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan
atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian
suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk
merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki
dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat
jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang
lain, mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat
tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang
gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar
kekuasaan.
- Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan
dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima
biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang
lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada
anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan
kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku
destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang
malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
- Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan
perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif
suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
- Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi
yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan
jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar,
menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun
terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan
merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik
(misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya
lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang
aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
- Helplessness (peragaan
ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada
dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya
(yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang
menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah
kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi
ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.
Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan
tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak
hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain
atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya
masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa.
a. Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan
tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
b. Jika guru merasa terancam (atau merasa
dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin
mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah
menuntut balas.
d. Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi,
hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah
ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan
memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah
tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan,
menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu
menangani masalah siswa secara tepat pula.
2. Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam
kaitannya dengan pengelolaan kelas:
- Kurangnya
kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan
adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok. Konflik
antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda
termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas
yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh
adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan
merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik
dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
- Kekurangmampuan
mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa
siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka
masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.
Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal
pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau
mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat
duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria
dan lain-lain.
- Reaksi
negatif terhadap sesama anggota kelompok
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok
terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota
kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang
menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan
kelompok. Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh
kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
- Penerimaan
kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku
yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung
anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada
umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan
(memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika
hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang
dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
- Kegiatan
anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah
ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan
orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu
mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya. Dalam hal ini kelompok itu
mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau
bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok
itu. Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena
mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai
oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
- Ketiadaan
semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit ialah
apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik
hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung. Permintaan penjelasan
yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan
tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas
karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes
atau keengganan bekerja. Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu
disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang
terjadi.
- Ketidakmampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri terhadap
lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap
peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok,
perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal
kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya
para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan
tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap
keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang
tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu
adalah kelas yang baik.
3. Pendekatan-Pendekatan
dalam Pengelolaan Kelas
Untuk mengatasi
masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat
dilakukan
a. Behavior –
Modification Approach (Behaviorism Apparoach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan
ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.
Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive
reinforcement (untuk membina perilaku
positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati demikian, dalam
penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena
jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b. Socio-Emotional
Climate Approach (Humanistic Approach)
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan
ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya
hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta
didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim
sosio-emosional yang baik.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan
pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik
sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta
didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa
dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan
pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan;
serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Selain itu juga dikemukakan William Glasser
bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan
masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana
pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk
keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta
didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan
pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik
sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala
konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati
tata aturan masyarakat.
c. Group Process Approach
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan
ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial
dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan
kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip –
prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual
expectations; (b) leadership; (c) attraction(pola persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.
d. Pendekatan Otoriter
Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan
kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan
ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol
tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak
ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1) perintah dan larangan
2) penekanan dan penguasaan
3) penghukuman dan pengancaman
4) Pendekatan perintah dan larangan
e. Pendekatan Permisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan
kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan
pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila kebebasan ini
dihalangi dapat menghambat perkembangan pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan
dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan
tindakan pada diri pembelajar
1) Tindakan pendekatan pengalihan dan
pemasabodohan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan
pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh pembelajar:
2) Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak
melakukan apa-apa sama sekali
3) Memberi peluang kemalasan dan menunda
pekerjaan .
4) Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa
melalui prosedur yang sebenarnya
5) Menukar kegiatan salah satu pembelajar,
digantikan oleh orang lain
6) Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada
seorang anggota
f. Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan
Sekali lagi pengajar memandang pembelajar
telah mampu meiakiikan sesuatu dengan prosedur yang benar. “Biarlah mereka
bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola
kelas. Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama pembeiajar bekerja sendiri,
pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru
ditanyakan atau disusun. Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja pembelajar
belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi pembelajar merasa
telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab
dalam kelompok atau kelas itu. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan
kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah. Kedua pendekatan inipun
kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan
terhadap gejala-gejala yang muncul. Pihak pengajar dan pembelajar tampak bebas,
kurang memikat.